Apakah QOLBU itu ? Hati, Jantung atau Otak ?

Postingan kali ini kita bahas ulang mengenai Qolbu, dan semoga sekaligus menjadi jawaban atas beberapa inbox, email dan SMS yang bertanya tentang Qolbu. Dan bagaimana hubungan Qolbu dengan Otak dan Pikiran, Qolbu menurut Al-Qur'an dan As-Sunah dan pertanyaan lain yang berkaitan dengan Qolbu.

Baiklah kita coba menelaah kembali mengenai otak manusia. Seperti kita ketahui bahwa otak merupakan pusat koordinasi yang mengendalikan dan mempengaruhi seluruh organ tubuh manusia. Boleh dikatakan Otak adalah inti pokoknya manusia. Otak manusia terdiri dari tiga bagian (meskipun merupakan satu kesatuan), yaitu (1) Kortek (Cerebrum) sering disebut sebagai otak besar atau otak depan atau otak manusia, (2) Cerebelum yang sering disebut sebagai otak kecil atau otak belakang atau otak reptilia, (3) Lymbic System yang sering di sebut sebagai otak mamalia. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda (lihat artikel mengenai Otak yang Luar Biasa pada postingan yang lalu).

Di samping itu kita juga mengenal istilah Otak Kiri, Otak Kanan dan Otak Tengah. Kita mengenal pula istilah Kecerdasan Intelegensia (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ), sehingga ketiganya dikenal dengan istilah IESQ. Di dalam Teknologi Pikiran (MindTech) kita mengenal Pikiran Sadar (conscious mind), Pikiran Tidak Sadar (unconscious mind) dan Pikiran Bawah Sadar (subconscious mind). Masing-masing istilah tersebut berhubungan dengan Otak dengan bahasan dari sudut pandang keilmuan yang berbeda.

Kembali ke pengertian Qolbu (bahasa Arab) yang sering kita maknai sebagai Hati atau bahkan Qolbu di-Indonesia-kan dengan kata Kalbu. Padahal Kalbu (dengan Kaf) dalam bahasa arab berarti Anjing (binatang). Beberapa ahli bahasa pernah menganjurkan untuk tidak lagi menggunakan kata Kalbu melainkan  tetap menggunakan kata aslinya yaitu Qolbu. Tetapi kebanyakan dari kita menterjemahkan kata Qolbu dengan Hati. Demikian juga kata 'Hati' kita pergunakan untuk padanan kata Liver (salah satu anatomi tubuh). 

Di dalam sebagian besar Al-Qur'an terjemahan bahasa Indonesia kata 'Hati' dipergunakan sebagai terjemahan beberapa kata yang berbeda.  Baiklah kita tinjau penggunaan kata Hati dalam menterjemahkan beberapa ayat dalam Al-Qur'an.
QS Al-Mu’minun [23]  ayat 78 :


وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ
diterjemahkan sebagai berikut :

dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati.  Amat sedikitlah kamu bersyukur.

QS Al-Ahqaaf [46] ayat 26 :

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلا أَبْصَارُهُمْ وَلا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

diterjemahkan sebagai berikut :

Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya

Dari kedua ayat di atas, maka kata af-ida diterjemahkan sebagai hati. Dalam kontek bahasa sehari-hari hal tersebut tidaklah salah. Jika ayat di atas kita maknai bahwa Allah telah menganugerahkan kepada manusia alat untuk menerima (menyerap/mempelajari) sesuatu (informasi/stimulan) dari lingkungan luar, maka ayat tersebut sesuai dengan penelitian ilmiah bahwa manusia dalam menyerap/menerima informasi dalam proses pembelajaran dengan tiga 'cara/alat' yaitu Pendengaran (telinga atau Auditory), Penglhatan (mata atau Visual) dan Perasaan (rasa/sentuhan/gerakan atau Kinestetik). Sehingga jika kata af-ida di atas diterjemahkan sebagai 'Perasaan' akan lebih tepat, meskipun dalam bahasa sehari-hari perasaan itu dikatakan juga berada di dalam hati.

Namun jika ayat tersebut kita terjemahkan dalam kontek manusia dalam memahami dan merespon sesuatu (termasuk dalam memahami ilmu dan pengetahuan), maka af-ida lebih tepat diterjemahkan sebagai Intelegensia (pikiran). Sehingga kita selayaknya bersyukur dan mempergunakan Pendengaran (telinga), Penglihatan (mata) dan Intelegensia (otak) dalam memahami seluruh petunjuk Allah dan RasulNya. Dan seperti kita sudah bahas mengenai otak manusia, bahwa Otak Besar (Cerebrum) di dalamnya terdapat Lobus Temporal yang berfungsi sebagai pusat pengendali pendengaran. Lobus Oksipital, merupakan lobus terkecil sebagai pusat penglihatan dan area asosiasi penglihatan. Berfungsi juga menginterpretasi dan memproses rangsang penglihatan dari nervus optikus dan mengasosiasikan rangsang ini dengan informasi saraf lain dan memori. Lobus Frontal, pusat fungsi intelektual yang lebih tinggi, seperti kemampuan berpikir abstrak dan nalar, motorik bicara (area broca di hemisfer kiri), pusat penghirup. Pusat pengontrolan gerakan volunter di gyrus presentralis (area motorik primer). Didalamnya terdapat area asosiasi motorik (area premotor).

QS Al-Mulk [67] ayat 13 :

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
 diterjemahkan sebagai berikut :

Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi  hati.


Pada ayat di atas kata Shudur diterjemahkan sebagai hati, namun jika kita pahami dalam konteknya ayat tersebut maka akan lebih tepat jika kita terjemahkan kata shudur sebagai pikiran, sehingga ayat tersebut di atas bisa diterjemahkan sebagai berikut, dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi pikiran (yang terdalam).  Namun diterjemahkan dengan hati juga tidak salah (tetapi baca/pahami sebagai hati kecil atau nurani atau perasaan dan bukan hati sebagai organ tubuh), karena Shudur ini  bukan sekedar pikiran logis (pikiran sadar) saja, tetapi pikiran yang lebih dalam lagi, yang melibatkan nurani dan perasaan atau pikiran dalam makna hati kecil. Kata Shudur juga dipergunakan di ayat lain dan diterjemahkan sebagai kata dada.

QS Thaha [20] ayat 25 - 28 :

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي - وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي - وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي - يَفْقَهُوا قَوْلِي

diterjemahkan sebagai berikut :

Berkata Musa: "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku,- dan mudahkanlah untukku urusanku, - dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, - supaya mereka mengerti perkataanku,

QS Asy- Syu'araa [26] ayat 13 :


وَيَضِيقُ صَدْرِي وَلا يَنْطَلِقُ لِسَانِي فَأَرْسِلْ إِلَى هَارُونَ

diterjemahkan sebagai berikut :


Dan (karenanya) sempitlah dadaku, tidak lancar lidahku, maka utuslah (Jibril) kepada Harun.

QS An-Naas [114]  ayat 5 :

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
diterjemahkan sebagai berikut :

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam  dada  manusia.

di ketiga ayat di atas shudur diterjemahkan dengan dada. Namun jika kita pahami kontek ayat tersebut maka akan lebih tepat jika shudur kita terjemahkan sebagai pikiran. Maka ketika pikiran kita sempit, lidah kita jadi kelu/kaku, maka Musa as.  memohon untuk dilapangkan pikirannya agar urusan jadi lancar dan lidah juga lancar serta orang lain (Fir'aun CS) bisa memahami apa yang akan disampaikan oleh Musa as. Namun kata shudur ini sebenarnya sudah diadopsi dalam bahasa Indonesia menjadi 'sadar' atau 'kesadaran' (Consciousness). Sehingga akan lebih tepat lagi jika shudur ini terjemahkan sebagai 'kesadaran' (secara fisik dan psikologis). Sedangkan kesadaran (dan keseimbangan) secara fisiologis diatur oleh otak kecil (Cerebelum). 

QS Al-'Araaf [7] ayat 205 :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

diterjemahkan sebagai berikut :

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. 


QS Qaaf [50] ayat 16 :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

yang diterjemahkan sebagai berikut :

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,

Untuk ke dua ayat di atas maka kata Nafs juga diterjemahkan dengan hati. Tapi kadang kata Nafs juga di terjemahkan sebagai Nafsu, seperti ayat di bawah ini.
  
QS Yusuf [12] ayat 53 :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

yang diterjemahkan sebagai berikut :

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari QS Qaaf [50] ayat 16 jika pemahaman kita dihubungkan dengan ayat selanjutnya (ayat 17) maka bisikan Nafs bisa dipahami sebagai 'kehendak pikiran' untuk melakukan sesuatu (bertindak), hal tersebut dapat dipahami karena ayat 17 mengatakan, (yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya......  Sedangkan pada QS Yusuf [12] ayat 53, kata Nafs bisa dipahami sebagai 'kehendak dasar pikiran' atau sering orang menyebutnya 'kebutuhan dasar' (Basic needed). Lalu apa saja 'kehendak dasar pikiran' manusia yang cenderung mendorong ke amal perbuatan jahat ? yaitu rasa haus/lapar, dan kebutuhan seksual, serta emosi atau perasaan seperti sedih,marah, takut dsb. Dan kalau kita runut maka kejahatan itu pasti berawal atau disebabkan oleh rasa haus/lapar atau seksual atau karena emosi (takut, marah, sedih dsb) yang mengaktifkan respon  fight or flight. Dan semua itu merupakan fungsi utama dari Sistem Limbik atau otak mamalia. (baca artikel Otak yang Luar Biasa dalam postingan terdahulu).

Demikian beberapa kata dalam Al-Qur'an yang diterjemahkan sebagai 'Hati' dalam bahasa Indonesia. Lalu bagaimana dengan kata Qolbu dalam Al-Qur'an ? .... Insya Allah dalam postingan yang akan datang kita bahas kata Qolbu yang ada dalam Al-Qur'an.

Hasil kompilasi dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.
Surya Hidayatullah Al-Mataromi :  http://cerminrefleksi.blogspot.com/ 





Silahkan mengutip dan/atau mempublikasikan sebagian atau seluruh artikel di Blog ini dengan menyebut sumber-nya. terimakasih.

Artikel Terkait : 
  1. Apakah QOLBU (HATI) itu ? Pikiran Bawah Sadar kah (?)  
  2. Otak yang Luar Biasa (1)   
  3. Otak yang Luar Biasa (2)   
  4. Keajaiban Pikiran (1) 
  5. Keajaiban Pikiran (2) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar